Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai sosok pemimpin dengan sisi humanis yang mendalam. Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) Doddy Hanggodo yang menyebutkan bahwa Presiden kerap menunjukkan empati melalui air mata saat menyaksikan kondisi rakyat yang sedang mengalami kesulitan.
Dalam kesempatan kunjungan kerja ke Padang, Sumatera Barat, Menteri PU menceritakan bagaimana Presiden Prabowo tidak kuasa menahan haru ketika melihat langsung kondisi masyarakat yang terdampak bencana atau mengalami kesusahan ekonomi.
Menurut Doddy, tangisan Presiden bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kepekaan sosial yang tinggi terhadap penderitaan rakyatnya https://harberthouse.net/POLICIES.html
“Beliau sangat mudah tersentuh melihat warga Indonesia yang sedang kesulitan. Itu yang membuat kami sebagai pembantunya harus bekerja lebih keras agar beliau tidak perlu menangis lagi melihat penderitaan rakyat,” ungkap Doddy Hanggodo dalam kesempatan terpisah.
Pernyataan ini menunjukkan komitmen kabinet untuk mengatasi akar masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial di Indonesia
Fenomena pemimpin yang menunjukkan emosi saat berhadapan dengan realitas sosial sebenarnya mencerminkan kedekatan hati dengan rakyat. Presiden Prabowo sendiri pernah terlihat menangis terharu saat menghadiri puncak peringatan Hari Guru Nasional 2024 di Jakarta, menunjukkan apresiasi mendalam terhadap para pendidik Indonesia.
Momen emosional ini menjadi viral di media sosial dan justru memperkuat citra kepemimpinan yang autentik.
Sebagai catatan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sendiri telah dipecah menjadi dua kementerian terpisah pada awal pemerintahan Prabowo: Kementerian Pekerjaan Umum dipimpin Doddy Hanggodo, sementara Kementerian Perumahan Rakyat dipimpin Maruarar Sirait.
Perubahan struktural ini sejalan dengan visi pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dasar yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Empati seorang pemimpin menjadi fondasi penting dalam merancang kebijakan yang pro-rakyat. Ketika seorang presiden mampu merasakan penderitaan rakyatnya, kebijakan yang dihasilkan cenderung lebih inklusif dan berpihak pada kelompok rentan. Namun demikian, tangisan seorang pemimpin harus diikuti dengan aksi nyata—program konkret yang mampu mengangkat derajat kehidupan masyarakat.
Masyarakat Indonesia patut mengapresiasi sisi humanis pemimpinnya, sekaligus terus mengawal agar empati tersebut bertransformasi menjadi kebijakan yang berdampak nyata bagi kesejahteraan rakyat. Kepemimpinan yang menggabungkan kepekaan hati dengan ketegasan aksi merupakan kombinasi ideal dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.