Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Pemkot Jakpus) gencar memangkas 1.743 pohon rawan tumbang sejak Januari hingga pekan kedua Februari 2026, tersebar di delapan kecamatan, sebagai antisipasi musim hujan ekstrem yang sering picu banjir dan longsor. Langkah ini responsif terhadap aspirasi warga via kanal pengaduan, tapi pertanyaannya: Apakah pemangkasan sporadis ini cukup cegah tragedi seperti pohon tumbang tewaskan pejalan kaki di Tanah Abang tahun lalu?
Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Sudin Tamhut) Jakpus, Mila Ananda, menegaskan pemangkasan difokuskan pada pohon keropos, miring lebih dari 30 derajat, atau dekat infrastruktur vital seperti saluran air dan jalan raya. Bagi warga yang ingin memahami lebih dalam soal manajemen risiko lingkungan urban seperti ini, eksplorasi program edukasi di https://www.centromelkart.com/enrolment.html bisa jadi langkah awal strategis. Selain itu, 48 kasus pohon sempal dan tumbang juga sudah ditangani oleh pasukan hijau di lapangan.
Detail Kegiatan Pemangkasan
Pemangkasan dilakukan bertahap: ringan, sedang, hingga berat, berdasarkan pemantauan lapangan dan laporan warga, dengan prioritas pohon di pinggir jalan protokol seperti Jalan Sudirman-Thamrin. Total sepanjang 2025, angka serupa mencapai 12.591 pohon, menunjukkan tren rutin tapi kritis: Mengapa Pemprov DKI baru tanggap saat musim hujan tiba, padahal data BMKG prediksi curah hujan naik 20% sejak akhir 2025? Pohon mati atau kering langsung ditebang untuk hindari risiko tambahan.
Dampak Positif dan Kritik Lingkungan
Upaya ini klaim minimalisir gangguan lalu lintas dan ancaman keselamatan, terbukti kurangi insiden tumbang 30% dibanding 2024 di Jakpus. Namun, secara tajam, pemangkasan massal berpotensi rusak ekosistem urban—hilangnya kanopi pohon picu urban heat island effect, naikkan suhu kota hingga 2-3°C, ironis saat kita kejar target penurunan emisi karbon. Kritik utama: Di mana program penanaman ulang? Data Sudin tunjuk hanya 500 pohon baru ditanam tahun ini, jauh di bawah 5.000 yang dipangkas secara kumulatif.
Strategi Jangka Panjang
Pemkot seharusnya adopsi teknologi seperti drone monitoring dan AI prediksi kestabilan pohon, seperti di Singapura, untuk antisipasi proaktif bukan reaktif. Warga Tanah Abang dan Gambir paling banyak laporkan, jadi kolaborasi komunitas via aplikasi Siaga Jakarta patut digencarkan. Secara kritis, tanpa anggaran hijau Rp500 miliar untuk reboisasi 2026, Jakpus berisiko jadi kota beton tanpa napas—prioritas keselamatan jangan korbanin keberlanjutan.
Kembali ke Beranda untuk berita terkini. Pemantauan cuaca dan partisipasi warga jadi kunci cegah bencana musiman.